Minggu, 11 Januari 2009

Perang Al-Furqan, Perang Pertama Palestina – Israel


Muhammad Abu Rasyid

Setelah 14 hari perang Al-Furqan digelar, militer Israel tidak berhasil mewujudkan 5 prioritas yang mereka inginkan; yakni target politik dan target militer. Kecuali hanya membunuh sebanyak mungkin warga sipil dan anak-anak. Roket perlawanan Palestina makin gencar menyerang Israel.

Pasukan Israel menyerang wilayah-wilayah kosong dan sudut kota. Sejak Senin pekan lalu Israel berusaha merangsek masuk Jalur Gaza namun menghadapi perlawanan Palestina yang sangat tangguh. Perang ini telah memberikan pengaruh besar di level politik dan militer. Militer Israel terus menyerang sipil Palestina dan tidak akan bisa keluar dari dilematisnya sekarang kecuali apabila komitmen dengan syarat-syarat gencatan senjata; yakni membuka perlintasan-perlintasan di sekitar Jalur Gaza terutama Rafah.

Perang Al-Furqan (Pembeda) adalah perang pertama Palestina dengan Israel:

- Ini perang antara dua pihak; pihak yang menyerang yakni Israel dan pihak yang membela diri yakni pasukan perlawanan Palestina terutama Hamas. Operasi sebelumnya hanya operasi “fidaeyah” serangan atau pembelaan lokal, namun tidak berujung kepada perang.

- Pertama kalinya Israel berusaha menyerang wilayah Palestina dan gagal. Semua kejahatan Israel sejak tahun 1948 dan sebelumnya dimana Yahudi menyerang dan menguasai sejumlah wilayah dikosongkan dari warga Palestina dengan membunuh atau dengan mengusirnya. Bahkan hingga pada saat dibentuk pasukan organisir yang bertanggungjawab menjaga wilayah Palestina seperti pasukan Mesir, mereka tidak bertahan baik di tahun 1956 atau 67.

- Dalam perang ini pihak Palestina berpegang teguh kepada Allah, kemudian terhadap kepercayaan diri. Di level militer, kita dicengangkan oleh faksi-faksi perlawanan dalam produksi senjata mereka secara lokal. Jenisnya banyak dan jarak tempuhnya dikembangkan. Hebatnya, itu dikembangan di bawah tanah dan tanpa bantuan ahli dari Jerman atau lainnya. Bahkan tanpa memotong dan memangkas anggaran pendidikan dan kesehatan. Sungguh sebuah kebanggan baik Palestina, Arab dan Muslim.

- Roket-roket perlawanan Palestina sudah menembus wilayah-wilayah Israel yang menciptakan krisis seperti di Asqelan, Asdod, Berseba. Kota-kota ini belum pernah merasakan pahit perang sejak dulu. Tiba-tiba kota-kota ini digempur dengan 700 – 800 roket pertama kali. Aktifitas bisnis dan pendidikan dihentikan segera. Bahkan ini pertama kalinya dalam konflik Arab Israel dimana roket Palestina bisa menembus ke pangkalan udara militer Israel Hatsarem dan Tel Nov, pangkalang militer udara Israel terbesar. Israel tidak pernah bermimpin roket Palestina menembus kota-kota itu.

- Ketegaran rakyat Palestina tidak pernah setegar ini. Ya, manusia pasti menangis karena kehilangan kekasihnya dari keluarga dan anak-anak. Namun itu bukan tangis keluh kesah, penolakan dan penyesalan. Kita tidak pernah dengar seorang warga Palestina mengatakan “kenapa kita tidak memperpanjang gencatan senjata” mereka tidak pernah mengecam dan mencela perlawanan Palestina. Mereka menuduh Hamas bertanggungjawab sama saja menuduh rakyat Palestina.

- Ini pertama kalinya dalam konflik Arab Israel dimana rakyat Palestina tidak peduli dengan keputusan DK PBB. Pertama kali Palestina dan Arab belajar keputusan DK PBB adalah keputuan 242 dan 194 dan lain-lain. Namun kali ini, perlawanan Palestina terutama Hamas menyambut keptuusan ini dengan dingin dan menyatakan bahwa hal itu tidak sesuai dengan cita-cita rakyat Palestina. Sementara Abbas yang habis masa jabatannya sejak 9 Januari 2009 dan antek-anteknya menyambut keputusan itu dengan menyambutnya dengan baik.

- Sikap pemerintah Arab resmi berbeda kali ini. Tidak ada dukungan tidak dana. Yang bisa mereka lakukan hanya ke DK PBB. Keluarnya keputusan DK PBB bukan sebuah capaian. Setelah sepekan ramai di DK PBB, Menlu AS tidak melibatkan Amr Mosa dan Menlu Qatar dalam pertemuan DK PBB.

- Sementara Mesir, kalau tidak diberitahu soal detail peristiwa perang, mereka tidak akan mengumumkan perang dari kantor presiden. Kalau Mesir tidak menutup Rafah maka kita tidak akan percaya bahwa Mesir mengatakan kepada delegasi Eropa bahwa Hamas tidak boleh menang. Mesir menegaskan bahwa hak Israel untuk menyetujui siapa yang masuk ke Jalur Gaza. Artinya menurut Mesir, Israel memiliki hak terhadap orang yang masuk Jalur Gaza. Mesir melarang di saat perang masuknya sipil ke wilayah mereka dan ini bertentangan dengan undang-undang inetrnasional. Anehnya, Menlu Mesir menyatakan akan mematahkan kaki warga Palestina yang masuk melalui perbatasan. Mesir hanya menunggu hancurnya Hamas. (bn-bsyr)

0 komentar: